Jumat, 07 Agustus 2015

Kerajaan Samudra Pasai

Kerajaan Samudra Pasai terletak di pantai utara Aceh yang merupakan gabungan dan dua kota, yaitu Samudra (agak di pedalaman) dan Pasai (kota pesisir). Kedua kota tersebut kemudian disatukan oleh Marah Silu yang kemudian dinobatkan menjadi raja dengan gelar Sultan Malik al Saleh. Setelah menjadi kerajaan Islam, Samudra Pasai berkembang pesat menjadi pusat perdagangan dan pusat penyebaran agama Islam. Para pedagang India, Benggala, Gujarat, Arab, dan Cina banyak berdagang di Samudra Pasai. Selanjutnya, Samudra Pasai memperluas wilayahnya ke daerah sekitar Aceh, seperti Tamiang, Balek Bimba, Samerlangga, Beruana, Samudra, Perlak, Hambu Aer, Rama Candhi, Tukas, Pekan, dan Pasai.



Menurut Marco Polo, raja pertama Kerajaan Samudra Pasai adalah Marah Silu atau Sultan Malik al Saleh (1285—1297). Raja berikutnya berturut-turut adalah Sultan Muhammad yang bergelar Sultan Malik al Thahir 1(1297-1326), Sultan Ahmad yang bergelar Sultan Malik al Thahir 1I(1346-1383), Sultan Zain al Abidin Malik az Zahir (1383-1405), Sultanah Nahrisyah (1405—1412), Abu Zaid Malik az Zahir (1412), dan Mahmud Malik az Zahir (1513-1524). Catatan mengenai Kerajaan Samudra Pasai banyak berasal dari Ibnu Batutah yang pernah datang berkunjung pada tahun 1345. Ia memberitakan bahwa Samudra Pasai telah menjalin komunikasi dan hubungan diplomasi dengan Kerajaan Delhi. Rajanya sangat dihormati rakyat dan menjadi pemimpin agama dengan dibantu seorang patih yang bergelar Amir.

Pada masa pemerintahan Sultan Malik al Saleh, Samudra Pasai telah mempunyai hubungan diplomatik dengan Cina. Hal itu diberitakan dalam sejarah Dinasi Yuan dan Cina. Berita itu menyatakan bahwa pada tahun 1282 seorang utusan Cina bertemu dengan salah seorang menteri dari kerajaan Sumatra. Mereka sepakat agar raja Samudra mengirimkan dutanya ke Cina. Hubungan luar negeri lainnya adalah dengan negara di Timur Tengah. Menurut berita Ibnu Batutah yang berkunjung ke Samudra Pasai pada masa Sultan Malik al Thahir II (1346-1383), menyatakan bahwa terdapat beberapa ahli agama datang ke Samudra Pasai, di antaranya Qadi Sharif Amir Sayyid dari Persi (Iran) dan Taj al Din dari Istahan. Adapun hubungan perdagangan dilakukan dengan banyak negara, antara lain Turki, Iran, Gujarat, Arab, Melayu, Jawa, dan Siam.

Kerajaan Banten

Kerajaan Banten didirikan oleh Fatahillah (1527). Semula, Banten merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Hindu Pajajaran. Kemudian, Banten direbut dan diperintah oleh Fatahillah dari Demak. Pada tahun 1552, Fatahillah menyerahkan Banten kepada putranya, Hasanuddin. Fatahillah sendiri pergi ke Cirebon dan berdakwah di sana sampai wafat (1570). Ia dimakamkan di desa Gunung Jati. Oleh karena itu, ia disebut Sunan Gunung Jati.


Di bawah pemerintahan Hasanuddin (1552 – 1570), Banten mengalami kemajuan di bidang perdagangan dan wilayah kekuasaannya meluas sampai ke Lampung dan Sumatra Selatan. Setelah wafat, Hasanuddin digantikan oleh putranya, Panembahan Yusuf (1570 – 1580). Pada masa pemerintahannya, Pajajaran
berhasil ditaklukkan (1579).

Panembahan Yusuf wafat pada tahun 1580 dan digantikan putranya, Maulana Muhammad (1580 – 1597). Pada masa pemerintahannya, datanglah Belanda. Ia menyambut kedatangan Belanda dan oleh Belanda ia diberi gelar Ratu Banten. Sepeninggal Ratu Banten, pemerintahan dipegang oleh Abdulmufakir yang masih kanak-kanak (1597 – 1640). Ia didampingi oleh walinya, Pangeran Ranamenggala. Pada tahun 1640, Abdulmufakir diganti oleh Abu Mali Ahmad (1640 – 1651).

Pemerintahan selanjutnya dipegang oleh Abdul Fatah yang bergelar Sultan Ageng Tirtayasa (1651 – 1682). Pada masa pemerintahannya, Banten mencapai kejayaan. Sultan Ageng mengadakan pembangunan, seperti jalan, pelabuhan, pasar, masjid yang pada dasarnya untuk meningkatkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat Banten. Namun sejak VOC turut campur tangan dalam pemerintahan Banten, kehidupan sosial masyarakatnya mengalami kemerosotan.

Keadaan semakin memburuk ketika terjadi pertentangan antara Sultan Ageng dan Sultan Haji, putranya dari selir. Pertentangan ini berawal ketika Sultan Ageng mengangkat Pangeran Purbaya (putra kedua) sebagai putra mahkota. Pengangkatan ini membuat iri Sultan Haji. Berbeda dengan ayahnya, Sultan Haji memihak VOC. Bahkan, dia meminta bantuan VOC untuk menyingkirkan Sultan Ageng dan Pangeran Purbaya. Sebagai imbalannya, VOC meminta Sultan Haji untuk menandatangani perjanjian pada tahun 1682 yang isinya, antara lain, Belanda mengakui Sultan Haji sebagai sultan di Banten; Banten harus melepaskan tuntutannya atas Cirebon; Banten tidak boleh berdagang lagi di daerah Maluku, hanya Belanda yang boleh mengekspor lada dan memasukkan kain ke wilayah kekuasaan Banten; Cisadane merupakan batas antara Banten dan Belanda. Perjanjian tersebut mengakibatkan Banten berada pada posisi yang sulit karena ia kehilangan peranannya sebagai pelabuhan bebas sejak adanya monopoli dari Belanda.

Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam - Di bawah pemerintahan Sultan Agung Mataram mencapai puncak kejayaannya. Sultan Agung memindahkan pusat pemerintahan dari Kotagede ke Plered. Sultan Agung bercita-cita untuk mempersatukan seluruh Pulau Jawa dibawah kekuasaan Mataram. Oleh karena itulah Mataram terus menerus terlibat dalam perang yang berkepanjangan baik dengan penguasa-penguasa daerah, maupun dengan VOC yang juga sedang berkeingan untuk menguasai Pulau Jawa.
Pada tahun 1614, Sultan Agung menaklukkan Kediri, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Pada tahun 1615, tentara Mataram lebih dikerahkan ke daerah Wirasaba, sebuah tempat yang sangat strategis untuk menaklukkan Jawa Timur. 
Daerah ini pun berhasil diduduki. pada tahun 1616. Pada tahun yang sama Lasem menyerah. Tahun 1619, Tuban dan Pasuruan dapat dipersatukan. Pada tahun 1622 Sultan Agung memberanikan diri menyeberangi Laut Jawa untuk menundukkan Sukadana di Kalimantan yang menjadi sekutu Surabaya. Pada tahun 1624 serangan Mataram ditujukan ke Madura. Pamekasan, Sampang dan Sumenep dapat ditaklukkan. Kemudian Adipati Sampang diangkat menjadi Adipati di Madura dengan gelar Pangeran Cakraningrat I. Dan akhirnya, Surabaya dapat dikuasai pada tahun 1625. Untuk menaklukkan Cirebon, Sultan Agung melakukan pernikahan politik dengan putri Cirebon.
Pada tahun, 1627, hampir seluruh Pulau Jawa telah berhasil dipersatukan di bawah kekuasaan Mataram, kecuali kesultanan Banten dan Batavia yang dikuasai VOC. Sebagai pewaris kerajaan Demak, Sultan Agung merasa berhak pula terhadap kerajaan Banten. Akan tetapi, antara Mataram dan Banten terdapat Batavia, markas VOC, sebagai penghalang.
Sukses besar tersebut menumbuhkan kepercayaan diri Sultan Agung untuk menghadapi VOC di Batavia dipimpin oleh Jan Pieterzoon Coen. Maka, pada tahun 1628, Mataram mempersiapkan pasukan di bawah pimpinan Tumenggung Baurekso dan Tumenggung Sura Agul-agul, untuk mengempung Batavia.
Akan tetapi, karena kuatnya pertahanan Belanda, serangan ini gagal, bahkan Tumenggung Baureksa gugur. Belajar dari kegagalan tersebut Mataram menyusun kekuatan yang lebih terlatih, dengan persiapan yang lebih matang. Maka pada 1629, pasukan Sultan Agung kembali menyerbu Batavia. Pada penyerangan kedua ini, pasukan Mataram dipimpin oleh Ki Ageng Juminah, Ki Ageng Purbaya, Ki Ageng Puger. Penyerbuan dilancarkan terhadap BentengHollandiaBommel, dan Weesp. Akan tetapi serangan ini kembali dapat dipatahkan. Setelah kekalahan itu serangan Mataram ditujukan ke Blambangan sehingga dapat dipersatukan pada tahun 1639.
Sultan Agung wafat pada tahun 1645. la digantikan putranya yang bergelar Amangkurat I (1645 -1677). Pada masa pemerintahannya, Belanda mulai masuk ke daerah Mataram. Bahkan Amangkurat I menjalin hubungan baik dengan Belanda. Selain itu sikap Amangkurat I yang sewenang-wenang menimbulkan pemberontakan-pemberontakan. Pemberontakan yang paling berbahaya adalah pemberontakan Trunojoyo dari Madura. Dalam pertempuran itu Amangkurat I terluka dan dilarikan ke Tegalwangi, hingga meninggal.

Kerajaan Cirebon

Kerajaan Cirebon terletak di Jawa Barat. Kerajaan ini didirikan oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Syarif Hidayatullah adalah seorang ulama yang gigih menyebarkan agama Islam. Berkat kegigihannya, agama Islam tersebar di sebagian besar daerah Jawa Barat. Kerajaan Cirebon terus berkembang selama kepemimpinannya. Kerajaan ini berhasil menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Mataram Islam. Karena didirikan oleh salah seorang Wali SangaKerajaan Mataram Islam sangat menghormati Cirebon. Pada awalnya, Cirebon merupakan bagian dari kekuasaan Demak

Namun, Cirebon dapat melepaskan diri dari kekuasaan Demak dan berdiri sebagai kerajaan yang merdeka. Kerajaan Cirebon dan pusat penyiaran agama Islam di daerah Jawa Barat. Pemerintahan Sunan Gunung Jati di Cirebon tidak berlangsung lama karena beliau lebihh menekuni bidang keagamaan. Setelah menyerahkan takhta kerajaan kepada cucunya yang bernama Panembahan Ratu, Sunan Gunung Jati segera mengundurkan diri dan menyepi di Gunung Jati. Raja selanjutnya adalah Pangeran Wanasakerta. 

Pada masa pemerintahan Pangeran Wanasakerta. Kerajaan Cirebon mulai mendapatkan intervensi politik dari VOC. Pada tahun 1679, Cirebon terbagi menjadi dua kekuasaan, yaitu Kasepuhan dan Kanoman. Pada perkembangan selanjutnya, Kanoman kembali dibagi menjadi dua kekuasaan yaitu Kanoman dan Kacirebonan. Dengan demikian, kekuasaaan Cirebon terbagi menjad 3 (tiga), yaitu Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan. Pada akhir abad ke-17, Cirebon berhasil dikuasaiVOC

Sejarah Kerajaan Islam : Kerajaan Cirebon

Kerajaan Demak

Kerajaan Demak
Hasil gambar untuk kerajaan demak
Pada akhir abad XV, Raden Patah, murid Sunan Bonang memaklumatkan berdirinya Kerajaan Islam Demak, lepas dari Kerajaan Majapahit. Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa. Raden Patah diakui sebagai raja pertama Demak dan mendapat gelar Sultan.Raden Patah wafat pada tahun 1518, digantikan oleh Muhammad Yunus yang juga dikenal dengan nama Pati Unus atau pangeran Sabrang Lor. Ia mendapat gelar Sultan Demak II.Pati Unus digantikan oleh pangeran Trenggono. Pada masa pemerintahannya, datanglah Syekh Nurullah atau Fatahillah dari Pasai. Kemudian, Nurullah diangkat menjadi panglima perang dan dinikahkan dengan adik perempuan Pangeran Trenggono.Karena ancaman Portugis yang bersifat ekonomi dan agama, Demak meluaskan wilayah kekuasaannya ke barat maupun ke timur di bawah pimpinan Fatahillah. Fatahillah berhasil menghancurkan benteng pertahanan Portugis. Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta pada tanggal 22 Juni 1927. Sultan Trenggono wafat dalam pertempuran di Pasuruan. Demak mengalami masa kejayaan pada masa kekuasaan Sultan Trenggono.

Kerajaan Aceh

Kerajaan Aceh
Hasil gambar untuk kerajaan aceh darussalam
Kerajaan Aceh didirikan pada tahun 1204 di bawah pemerintahan Sultan Jihan Syah. Pada waktu itu, Aceh belum berdaulat karena merupakan kerajaan kecil yang berada di bawah pengaruh Pedir. Akhirnya, Aceh berhasil melepaskan diri dari kekuasaan Pedir dan menjadi kerajaan yang berdaulat penuh. Pada waktu itu, Aceh diperintah oleh Sultan Muhayat Syah (1514-1528). Pusat kerajaan dipindah ke Kutaraja. Dalam kurun waktu 4 abad, Kerajaan Aceh dipimpin oleh raja-raja sebagai berikut:
1. Sultan Ali Muhayat Syah atau Sultan Ibrahim.
2. Sultan Salahudin.
3. Sultan Alaudin Riyad Syah.
4. Sultan Hasyim.
5. Sultan Zainal Abidin.
6. Sultan Alaudin Mansyur Syah.
7. Sultan Ali Ri'ayat Syah II
8. Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam.

Aceh mencapai zaman keemasan di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1936). Ia adalah orang yang cerdas dan pemeluk Islam yang taaat. Pada masa pemerintahannya, wilayah Aceh semakin luas, yaitu membentangi di pesisir Barat Sumatra sampai Bengkulu dan di pesisir Timur Sumatra sampai Siak. Bahkan, beberapa daerah di Semenanjung Malaya seperti Johor, Kedah, Pahang, dan Patani (Thailand) berhasil dikuasai.

Iskandar Muda bersikap anti penjajah. Ia bercita-cita dapat mengusir Portugis dari Malaka. Oleh sebab itu, Iskandar Muda beberapa kali menyerang Portugis di Malaka. Contoh, tahun 1629, ia melakukan serangan besar-besaran terhadap Portugis. Portugis pun ikut menyerang dan berusaha menguasai Aceh, namun selalu dapat dipukul mundur oleh tentara Aceh.

Kerajaan Ternate dan Tidore

Kerajaan Ternate dan Tidore
Hasil gambar untuk kerajaan ternateTernate merupakan kerajaan Islam di timur yang berdiri pada abad ke-13 dengan raja Zainal Abidin (1486-1500). Zainal Abidin adalah murid dari Sunan Giri di Kerajaan Demak. Kerajaan Tidore berdiri di pulau lainnya dengan Sultan Mansur sebagai raja. Kerajaan yang terletak di Indonesia Timur menjadi incaran para pedagang karena Maluku kaya akan rempah-rempah. Kerajaan Ternate cepat berkembang berkat hasil rempah-rempah, terutama cengkih.

Ternate dan Tidore hidup berdampingan secara damai. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung selamanya. Setelah Portugis dan Spanyol datang ke Maluku, kedua kerajaan berhasil diadu domba. Akibatnya, antara kedua kerajaan tersebut terjadi persaingan. Portugis yang masuk Maluku pada tahun 1512 menjadikan Ternate sebagai sekutunya dengan membangun benteng Sao Paulo. Spanyol yang masuk Maluku pada tahun 1521 menjadikan Tidore sebagai sekutunya.

Setelah sadar bahwa mereka diadu domba, hubungan kedua kerajaan membaik kembali. Sultan Khairun kemudian digantikan oleh Sultan Babullah (1570-1583). Pada masa pemerintahannya, Portugis berhasil diusir dari Ternate. Keberhasilan itu tidak terlepas dari bantuan Sultan Tidore. Sultan Khairun juga berhasil memperluas daerah kekuasaan Ternate sampai ke Filipina.

Itulah beberapa kerajaan-kerajaan Islam yang ada di Indonesia. Sebenarnya bukan itu saja kerajaan Islam di Indonesia, tapi karena penulis yang penuh kekurangan, penulis hanya bisa menyajikan 6 kerajaan Islam di Indonesia. Semoga wacana di atas bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih.